Jumat, 11 Oktober 2013

DESAIN PENELITIAN ETNOGRAFI

Oleh : 
1.  Jaswo, S.Pd.I            NIM : 13006
2.  Nur Hafid, S.Pd.I.     NIM : 13005
PROGRAM PASCASARJANA PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Etnografi merupakan salah satu dari sekian pendekatan dalam penelitian kualitatif. Dalam tradisi penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, etnografi dikenal sebagai salah satu tradisi kualitatif selain penelitian biografi, fenomenologi, grounded research, dan studi kasus. Penelitian etnografi diidentikan dengan kerja antropologi, dengan dasar selain sebagai founding father, penentu cikal bakal lahirnya antropologi, juga karena karakter penelitian etnografi yang mengkaji secara alamiah individu dan masyarakat yang hidup dalam situasi budaya tertentu. Karena itupula etnografi dikenal sebagai naturalistic inquiry.
Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. Peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai sebuah proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, sehingga peneliti memahami betul bagaimana kehidupan keseharian subjek penelitian tersebut (Participant observation, life history), yang kemudian diperdalam dengan indepth interview terhadap masing-masing individu dalam kelompok tersebut. Dengan demikian penelitian etnografi menghendaki etnografer /peneliti : (1) mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok dalam situasi budaya  tertentu, (2) memahami budaya atau aspek budaya dengan memaksimalkan observasi dan interpretasi perilaku manusia yang berinteraksi dengan manusia lainnya, (3) menangkap secara penuh makna realitas budaya berdasarkan perspektif subjek penelitian ketika menggunakan simbol-simbol tertentu dalam konteks budaya yang spesifik.


B.  Rumusan Masalah
  1. Apakah pengertian penelitian etnografi ?
  2. Bagaimana langkah-langkah penelitian etnografi ?


BAB II
KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A.  Pengertian Penelitian Etnografi
Penelitian etnografi adalah termasuk salah satu pendekatan dari penelitian kualitatif. Penelitan etnografi di bidang pendidikan diilhami oleh penelitian sejenis yang dikembangkan dalam bidang sosiologi dan antropologi. Penelitian etnografi pernah dilakukan oleh peneliti bernama Jonathan Kozol, dalam rangka melukiskan perjuangan dan impian para warga kulit hitam dalam komunitas yang miskin dan terpinggirkan di daerah Bronx, New York.[1] Penelitian kualitatif dengan pendekatan ini kemudian banyak diterapkan dalam meneliti lingkungan pendidikan atau sekolah.   
Menurut Miles & Hubberman seperti yang dikutip oleh Lodico, Spaulding & Voegtle, Etnografi berasal dari bahasa Yunani ethos dan graphos. Yang berarti tulisan mengenai kelompok budaya. Sedangkan Menurut Le Clompte dan Schensul etnografi adalah metode penelitian yang berguna untuk menemukan pengetahuan yang terdapat atau terkandung dalam suatu budaya atau komunitas tertentu.[2] Menurut Gay, Mills dan Airasian, penelitian etnografi adalah suatu studi mengenai pola budaya dan perspektif partisipan dalam latar alamiah.[3]
Menurut Haris seperti yang dikutip oleh Cresswell, etnografi adalah suatu desain kualitatif dimana seorang peneliti menggambarkan dan menginterpretasikan pola nilai, perilaku, kepercayaan dan bahasa yang dipelajari dan dianut oleh suatu kelompok budaya. Menurut Cresswell etnografi berfokus pada keseluruhan kelompok. Seorang etnografer meneliti pola yang diikuti satu kelompok misalnya oleh sejumlah lebih dari 20 orang, jumlah yang lebih besar daripada yang biasa diteliti dalam grounded theory. Namun bisa juga lebih sedikit misalnya sejumlah guru dalam suatu sekolah namun tetap dalam lingkup keseluruhan kelompok besar (dalam hal ini sekolah).[4]
Selanjutnya menurut Lodico  maksud penelitian etnografi adalah untuk menggali atau menemukan esensi dari suatu kebudayaan dan keunikan beserta kompleksitas untuk bisa melukiskan interaksi dan setting suatu kelompok.[5]
Menurut Emzir, etnografi adalah suatu bentuk penelitian yang berfokus pada makna sosilogi melalui observasi tertutup dari fenomena sosiokutural. Biasanya para peneliti etnografi menfokuskan penelitiannya pada suatu masyarakat (tidak selalu secara geografis, juga memerhatikan pekerjaan, pengangguran, dan masyarakat lainnya), pemilihan informan yang mengetahui yang memiliki suatu pandangan/pendapat tentang berbagai kegiatan masyarakat. Para informan tersebut diminta untuk mengidentifikasi informan-informan lainnya yang mewakili masyarakat tersebut, menggunakan sampling berantai untuk memperoleh suatu kelengkapan informan dalam semua wilayah empiris penyelidikan. Informan-informan tersebut diwawancarai berulang-ulang, menggunakan informasi dari informan-informan sebelumnya untuk memancing klarifikasi dan tanggapan yang lebih mendalam terhadap wawancara ulang. Proses ini dimaksudkan berhubungan dengan fenomena yang sedang diteliti. Pemahaman-pemahaman sebjektif bahkan kolektif tentang suatu subjek ini sering diinterpretasikan menjadi lebih berarti daripada data objektif (misalnya perbedaan pendapat). [6]
Menurut Hammersley, sebagaimana Emzir, etnografi adalah suatu metode penelitian ilmu sosial. Penelitian ini sangat percaya pada ketertutupan (up-close), pengalaman pribadi, dan partisipasi yang mungkin, tidak hanya pengamatan, oleh para peneliti yang terlatih dalam seni etnografi. Para etnografer ini sering bekerja dalam tim multidisipliner. Titik focus (focal point) etnografi dapat meliputi studi intensif budaya dan bahasa. Studi intensif suatu bidang atau domain tunggal, serta gabungan metode historis, observasi, dan wawancara. Penelitian etnografi khusus menggunakan tiga macam pengumpulan data: wawancara, observasi, dan dokumen. Ini pada gilirannya menghasilkan tiga jenis data: kutipan, uraian, dan kutipan dokumen, menghasilkan dalam suatu produk: uraian naratif ini sering meliputi tabel, diagram, dan artefak tambahan yang membantu penceritaan (to tell “the story”).[7]
Jadi suatu penelitian etnografi adalah penelitian kualitatif yang melakukan studi terhadap kehidupan suatu kelompok masyarakat secara alami untuk mempelajari dan menggambarkan pola budaya satu kelompok tertentu dalam hal kepercayaan, bahasa, dan pandangan yang dianut bersama dalam kelompok itu.

 

B.  Karakteristik dan Asumsi Dasar Penelitian Etnografi

Dalam menjalankan penelitiannya seorang etnografer harus membangun hubungan yang dekat dengan partisipan dari objek komunitas penelitiannya. Seperti contoh etnografer Jonathan Kozol di atas, untuk meneliti komunitas kulit hitam di Bronx, dia juga ikut tinggal di sana selama beberapa bulan untuk bisa menyelami kehidupan mereka. Mereka pun mulai percaya pada Kozol dan mau berbagi mengenai perasaan terdalam mereka dan pandangan mereka tentang kemiskinan dan perbedaan warna kulit.[8]
Penelitian etnografi meneliti suatu proses dan hasil akhir.[9] Akhir dari penelitian adalah membuat tulisan yang kaya akan gambaran detail dan mendalam mengenai objek penelitan (thick description).[10] Sebagai penelitian suatu proses, seorang etnografer melakukan participant observation, di mana seorang peneliti melakukan eksplorasi terhadap kegiatan hidup sehari-hari dari objek kelompoknya, melakukan pengamatan dan mewawancarai anggota kelompok dan terlibat di dalamnya. Participant obeservation juga berarti bahwa peneliti ikut terlibat dan ikut berperan dalam pengamatan.[11]
Untuk keperluan penelitian ini seorang etnografer memelukan seorang key informant atau gatekeeper yang bisa membantu menjelaskan dan masuk ke dalam kelompok tersebut. Selain itu seorang etnografer harus mempunyai sensitivitas tinggi terhadap partisipan yang sedang ditelitinya, karena bisa jadi peneliti belum familiar terhadap karakteristik mereka.
Berikut ini aspek atau karakteristik etnografi baik yang dirangkum dari Wolcott dan Gay, Mills dan Airasian.[12]
1.      Berlatar alami bukan eksperimen di laboratorium
2.      Peneliti meneliti tema-tema budaya tentang peran dan kehidupan sehari-hari seseorang
3.      Interaksi yang dekat dan tatap muka dengan partisipan
4.      Mengambil data utama dari pengalaman di lapangan
5.      Menggunakan berbagai metode pengumpulan data seperti wawancara, pengamatan, dokumen, artifak dan material visual.
6.      Peneliti menggunakan deskripsi dan detail tingkat tinggi 
7.      Peneliti menyajikan ceritanya secara informal seperti seorang pendongeng
8.      Menekankan untuk mengekplorasi fenomena sosial bukan untuk menguji hipotesis.
9.      Format keseluruhannya adalah deskriptif, analisis dan interpretasi
10.  Artikel diakhir dengan sebuah pertanyaan.
Menurut Nur Syam, ciri-ciri penelitian etnografi adalah :
1.   Deskripsi etnografis sepenuhnya disusun sesuai dengan pandangan, pengalaman warga pribumi (emic view)
2.   Memanfaatkan metode wawancara mendalam dan observasi terlibat.
3.   Peneliti tinggal di lapangan untuk belajar tentang budaya yang dikajinya.
4.   Analisis datanya bercorak menyeluruh (holistik) yaitu menghubungkan antarasuatu fenomena budaya dengan fenomena budaya lainya atau menghubungkan antara suatu konsep dengan konsep lainnya.[13]
Karakter khas dari metode etnografi semakin menjadi jelas, ketika asumsi-asumsi yang dibangun dan dimiliki etnografi mengarah pada pemahaman terhadap keberadaan/peran/makna budaya dalam sebuah masyarakat. Asumsi-asumsi itu menurut menurut Emzir (2012) dapat diuraikan sebagai berikut :
1.  Etnografi mengasumsikan kepentingan penelitian yang prinsip terutama dipengaruhi oleh pemahaman cultural masyarakat. Metodologi secara sungguh-sungguh menjamin bahwa pemahaman cultural umum akan diidentifikasi untuk kepentingan peneliti di tangan. Interpretasi tepat menempatkan tekanan besar pada kepentingan kausal dari pemahaman kultual seperti itu. Terdapat suatu kemungkinan bahwa focus etnografi akan mempertiimbangkan secara berlebihan peran persepsi budaya dan tidak mempertimbangkan peran kausal kekuatan-kekuatan objektif.
2.  Etnografi mengasumsikan suatu kemampuan mengidentifikasi masyarakat secara relevan dari kepentingan. Dalam banyak latar, ini mungkin menjadi sulit. Masyarakat, organisasi formal, kelompok non formal dan persepsi tingkat local semuanya mungkin memainkan peran dalam banyak subjek yang diteliti, dan kepentingan ini mungkin bervariasi menurut waktu, tempat dan masalah. Terdapat suatu kemungkinan bahwa focus etnografi mungkin secara berlebihan memandang peran budaya masyarakat dan tidak memberikan pandangan pada peran kausal dari kekuatan psikologis individual atau bagian masyarakat.
3.  Etnografi mengasumsikan peneliti mampu memahami kelebihan cultural dari masyarakat yang diteliti, menguasai bahasa atau jargon teknis dari kebudayaan tersebut, dan memiliki temuan yang didasarkan pada pengetahuan komprehensif dari budaya tersebut. Terdapat suatu bahasa bahwa peneliti mungkin memasukkan bias terhadap pandangan budayanya sendiri.
4.  Sementara tidak inheren bagi metode, penelitian etnografi lintas budaya yang menghindari risiko asumsi yang keliru bahwa pengukuran yang ada memiliki makna yang sama lintas budaya. [14]

C.  Prinsip-Prinsip Metodologis Penelitian Etngrafi
Hammersley (1990), sebagaimana dikutip oleh Emzir, mengemukakan tiga prinsip metodologis yang digunakan untuk menyediakan dasar pemikiran terhadap corak metode etnografi yang spesifik. Prinsip-prinsip ini juga merupakan dasar bagi sebagian besar kritik tentang kegagalan penelitian kuantitatif menangkap kebenaran hakikat perilaku sosial manusia; karena bersandar pada studi latar artifisial dan atau pada apa yang dikatakan orang bukan pada apa yang dilakukan mereka; karena mencari untuk mengurangi makna terhadap apa yang dapat diamati; karena reifers fenomena sosial dengan memperlakukannya sebagai terdefinisikan lebih jelas dan lebih statis dari yang seharusnya, dan sebagai produk mekanis dari faktor-faktor sosial dan psikologis. Ketiga prinsip tersebut dapat dirangkum di bawah judul naturalisme, pemahaman, dan penemuan.[15]
1.      Naturalisme. Ini merupakan pandangan bahwa tujuan penelitian sosial adalah untuk menangkap karakter perilaku manusia yang muncul secara alami, dan bahwa ini hanya dapat diperoleh melalui kontak langsung dengannya, bukan melalui inferensi dari apa yang dilakukan orang dalam latar buatan seperti eksperimen atau dari apa yang mereka katakan dalam wawancara tentang apa yang mereka lakukan.
2.      Pemahaman. Yang sentral di sini adalah alasan bahwa tindakan manusia berbeda dari perilaku objek fisik, bahkan dari makhluk lainnya: tindakan tersebut tidak hanya berisi tanggapan stimulus, tetapi meliputi interpretasi terhadap stimulus dan konstruksi tanggapan. Kadang-kadang tanggapan ini mencerminkan penolakan yang lengkap terhadap konsep kausalitas sebagai tidak dapat diterapkan dalam dunia sosial, dan desakan tegas atas karakter yang dibangun secara bebas dari tindakan manusia dan institusi.
3.      Penemuan. Corak lain dari pemikiran etnografi adalah konsepsi proses penelitian sebagai induktif atau berdasarkan temuan, daripada dibatasi pada pengujian hipotesis secara eksplisit. Itu beralasan bahwa jika seseorang mendekati suatu fenomena dengan suatu set hipotesis, mungkin dia gagal menemukan hakikat fenomena tersebut sebenarnya dibutakan oleh asumsi yang dibangun ke dalam hipotesis tersebut.

D.  Jenis Penelitian Etnografi

Menurut Creswell, para ahli banyak menyatakan mengenai beragam jenis penelitian etnografi, namun Creswell sendiri membedakannya menjadi 2 bentuk yang paling popular yaitu Etnografi realis dan etnografi kritis. Penjelasannya sebagai berikut : [16]
1.      Etnografi realis
Etnografi realis mengemukakan suatu kondisi objektif suatu kelompok dan laporannya biasa ditulis dalam bentuk sudut pandang sebagai orang ke-3. Seorang etnografi realis menggambarkan fakta detail dan melaporkan apa yang diamati dan didengar dari partisipan kelompok dengan mempertahankan objektivitas peneliti.
2.   Etnografi kritis
Dewasa ini populer juga etnograi kritis. Pendekatan etnografi kritis ini penelitian yang mencoba merespon isu-isu sosial yang sedang berlangsung misalnya dalam masalah jender/emansipasi, kekuasaan, status quo, ketidaksamaan hak, pemerataan dan lain sebagainya.
Jenis-Jenis etnografi lainnya diungkapkan Gay, Mills dan Aurasian sebagai berikut:[17]
1.      Etnografi Konfensional: laporan mengenai pengalaman pekerjaan lapangan yang dilakukan etnografer.
2.      Autoetnografi: refleksi dari seseorang mengenai konteks budayanya sendiri.
3.      Mikroetnografi: studi yang memfokuskan pada aspek khusus dari latar dan kelompok budaya.
4.      Etnografi feminis: studi mengenai perempuan dalam praktek budaya yang yang merasakan pengekangan akan hak-haknya.
5.      Etnografi postmodern: suatu etnografi yang ditulis untuk menyatakan keprihatinan mengenai masalah-masalah sosial terutama mengenai kelompok marginal.
6.      Studi kasus etnografi: analisis kasus dari seseorang, kejadian, kegiatan dalam perspektif budaya.

E.  Prosedur Penelitian Etnografi

Menurut Creswell, walau tidak ada satu cara saja dalam menititi etnografi namum secara umum prosedur penelitian etografi adalah sebagai berikut:[18]
1.      Menentukan apakah masalah penelitian ini adalah paling cocok didekati dengan studi etnogafi. Seperti telah kita bahas di atas bahwa etnografi menggambarkan suatu kelompok budaya dengan mengekloprasi kepercayaan, bahasa dan  perilaku (etnografi realis); atau juga mengkritisi isu-isu mengenai kekuasaan, perlawanan dan dominansi (etnografi kritis).
2.      Mengidentifikasi dan menentukan lokasi dari kelompok budaya yang akan diteliti. Kelompok sebaiknya gabungan orang-orang yang telah bersama dalam waktu yang panjang karena disini yang akan diteliti adalah pola perilaku, pikiran dan kepercayaan yang dianut secara bersama.
3.      Pilihlah tema kultural atau isu yang yang akan dipelajari dari suatu kelompok. Hal ini melibatkan analisis dari kelompok budaya.
4.      Tentukan tipe etnografi yang cocok digunakan untuk memlajari konsep budaya tersebut. Apakah etnografi realis ataukah etnografi kritis.
5.      Kumpulkan informasi dari lapangan mengenai kehidupan kelompok tersebut. Data yang dikumpulkan bisa berupa pengamatan, pengukuran, survei, wawancara, analisa konten, audiovisual,pemetaan dan penelitian jaringan. Setelah data terkumpul data tersebut dipilah-pilah dan dianalisa.
6.      Yang terakhir tentunya tulisan tentang gambaran atau potret menyeluruh dari kelompok budaya tersebut baik dari sudut pandang partisipan maupun dari sudut pandang peneliti itu sendiri.
Peneliti etnografi secara umum mempunyai kesamaan dengan seseorang penjelajah yang mencoba memetakan suatu wilayah hutan belantara. Penjelajah memulai dengan suatu masalah umum, mengidentifikasi ciri-ciri utama dari wilayah tersebut; peneliti etnografi ingin mendeskripsikan wilayah kultural. Kemudian penjelajah mulai mengumpulkan informasi, menapak berjalan pertama satu arah, kemudian barangkali menyelidiki rute tersebut, selanjutnya memulai penyelidikan satu arah baru. Pada penemuan sebuah danau di tengah sebuah hutan berpohon-pohon besar, penjelajah mungkin berjalan mengelilinginya, kemudian berjalan melewati daerah yang sudah dikenal untuk mengukur jarak danau dari tepi hutan tersebut. Penjelajah akan sering membaca kompas, memeriksa arah matahari, membuat catatan tentang tanda-tanda yang menonjol, dan menggunakan umpan balik dari setiap pengamatan untuk memodifikasi informasi awal. Setelah beberapa minggu penyelidikan, penjelajah mungkin mengalami kesulitan menjawab pertanyaan “Apa yang telah kamu temukan?” Seperti seseorang peneliti etnografi, penjelajah mencari untuk mendeskripsikan suatu area hutan belantara daripada berusaha menemukan sesuatu.
Menurut Spradley (1980: 26), s dalam praktik bagaimana dikutip oleh Emzir, penelitian nyata perbedaan ini dapat diungkapkan dalam dua pola penelitian. Sementara para peneliti ilmu sosial cenderung mengikuti penyelidikan pola “linear”, peneliti etnografi cenderung mengikuti pola “siklus”. Mari kita lihat secara singkat pada contoh urutan linear dalam penelitian ilmu sosial, setelah itu baru kita diskusikan pola “siklus”yang digunakan peneliti etnografi. [19]
1.      Urutan Linear dalam Penelitian Ilmu Sosial
McCord & McCord (1958) dalam penelitiannya tentang kriminalitas, mengikuti prosedur urutan linear (gambar 1).



 

Mereka menyusun suatu prosedur penelitian untuk melihat apakah model peranan orang tua memengaruhi anak-anak untuk mengatasi perilaku kriminal atau menghindari perilaku tersebut. Semua detail dari penelitian mereka tidak perlu dipertimbangkan untuk mengikuti urutan linear dari aktivitas ringkas berikut.
Tahap pertama: mendefinisikan suatu masalah penelitian. McCord mulai dengan mendefinisikan masalah penelitian sebagai hubungan antara lingkungan keluarga dengan penyebab kajahatan.
Tahap kedua: merumuskan hipotesis. Peneliti merumuskan sejumlah hipotesis penelitian tentang hubungan antara sikap orang tua, perilaku, dan disiplin terhadap aktivitas kriminal (atau absen dari aktivitas tersebut) dari anak-anak. Sebagai contoh, mereka menghipotesiskan bahwa jika orang tua laki-laki menyimpang (kriminal, kacau), penyimpangan mereka akan tercermin dalam kriminalitas di antara anak-anak, dan “anak-anak akan meniru orang tua laki-laki yang menyimpang, jika orang tua laki-laki menunjukkan rasa kasih sayang terhadap mereka.”
Tahap ketiga: membuat definisi operasional. Penelitian mendefinisikan kata-kata, frase seperti “penyimpangan” dan “model peran orang tua” dalam istilah-istilah spesifik yang memungkinkan peneliti setuju bila mereka mengidentifikasi perilaku menyimpang.
Tahap keempat: merancang instrumen penelitian. Penelitian menggunakan data yang telah dikumpulkan sebelumnya dari wawancara dan observasi. Instrumen utama pada saat penelitian adalah suatu set instruksi peringkat yang digunakan oleh “rater” yang membaca lewat data awal ini. Instrument tidak dapat dirancang hingga tahap satu sampai tahap tiga dilakukan.
Tahap kelima: mengumpulkan data. Ini dilakukan dengan menggunakan satu kelompok rater independen.
Tahap keenam: menganalisis data. Data kemudian dipertentangkan dengan hipotesis dan diuji untuk temuan baru yang tidak berhubungan dengan hipotesis.
Tahap ketujuh: menggambarkan kesimpulan. Banyak kesimpulan ditarik dari penelitian, termasuk, sebagai contoh, penyimpangan mahasiswa tercermin dalam perilaku kriminal di kalangan anak-anak.
Tahap kedelapan: melaporkan hasil. Bila analisis sudah lengkap, dan kesimpulan sudah digambarkan, McMord kemudian menulis hasilnya untuk publikasi.
Penelitian etnografi jarang menggunakan prosedur linear semacam ini; tugas-tugas utama mengikuti semacam pola siklus, selalu mengulangi, seperti terlihat dalam gambar 2. Berikut akan dibicarakan masing-masing aktivitas utama dalam siklus ini.




 

 
  


2.      Siklus Penelitian Etnografi
Menurut Spradley (1980: 22-35), sebagaimana dikutip oleh Emzir prosedur penelitian etnografi bersifat siklus, bukan bersifat urutan linear dalam penelitian ilmu sosial. Prosedur siklus penelitian etnografi mencakup enam langkah: (1) pemilihan suatu proyek etnografi, (2) pengajuan pertanyaan etnografi, (3) pengumpulan data etnografi, (4) pembuatan suatu rekaman etnografi, (5) analisis data etnografi, dan (6) penulisan sebuah etnografi. Berikut uraiannya masing-masing. [20]
a.    Pemilihan Suatu Proyek Etnografi
Siklus dimulai dengan pemilihan suatu proyek etnografi. Barangkali yang pertama peneliti etnografi mempertimbangkan ruang lingkup dari penyelidikan mereka. Wolcott (1967) memilih desa Kwakiutl di British Columbia dengan sebuah populasi standar 125 orang. Studi Hicks tentang Little Valley (1976) difokuskan pada penyelesaian yang berbeda dengan populasi total standar 1300 orang. Spradley dkk. melakukan penelitian etnografi pada suatu daerah kecil perkotaan (Spradley dan Mann, 1975). Orcar Lewist mengahabiskan beberapa tahun meneliti sebuah keluarga tunggal (1963). Ruang lingkup penelitian dapat berjarah sepanjang satu kontinum dari etnografi makro ke etnografi mikro.
b.   Pengajuan Pertanyaan Etnografi
Pekerjaan lapangan etnografi dimulai ketika Anda mulai mengajukan pertanyaan etnografi. Itu memperlihatkan bukti yang cukup ketika pelaksanan wawancara, tetapi obsevasi yang sangat sederhana dan entri catatan lapangan pun melibatkan pengajuan pertanyaan. Anggap untuk sementara Anda mulai menaiki sebuah bis kota sebagai seseorang etnografi. Bis berhenti pada sebuah persimpangan yang sibuk dan Anda mengamati sebagai orang pemilik bis, pintu tertutup, dan pengemudi mengarahkan bis memasuki persimpangan tersebut. Anda menunggu hingga setiap orang mendapat tempat duduk, kemudian mencatat pertanyaan berikut dalam catatan Anda: “Tiga orang naik bis di halte bis Snelling Avenue, seorang wanita dan dua anak laki-laki. Masing-masing di antara mereka pergi ke tiga tempat duduk kosong terpisah dan semua memilih tempat dekat pintu”. Anda dapat menjawab beberapa pertanyaan implicit, pertanyaan Anda ajukan tanpa realisasinya.
1)         Siapa yang naik bis?
2)         Apa jenis kelamin dan berapa usia penumpang yang baru?
3)         Apa yang mereka lakukan setelah naik bis?
4)         Di mana setiap orang duduk?
Sebagai pengganti pertanyaan di atas Anda dapat mengajukan pertanyaan sperti: “berapa tinggi setiap penumpang baru? Apa yang diapaki oelh setiap penumpang? Di mana setiap orang terlihat bergerak turun ke jalan? Pertanyaan ini akan menuntun ke arah entri yang berbeda dalam catatan lapangan Anda.
Dalam format penelitian sosial yang paling umum, pertanyaan yang diajukan oleh peneliti cenderung datang dari luar pemandangan budaya. Para peneliti dari suatu pandangan budaya tertentu (ilmu sosial professional) menggambarkan pada kerangka referensi. Mereka untuk merumuskan pertanyaan. Mereka kamudian memandang budaya yang lain untuk melakukan wawancara atau observasi. Tanpa merealisasikannya merka cenderung berasumsi bahwa pertanyaan dan jawaban merupakan unsure-unsur yang terpisah dalam pemikiran manusia. Pertanyaan selalu mengimplikasikan jawaban. Pertanyaan dari jenis apa pun selalu mengimplikasikan pertanyaan. Ini benar, bahkan ketika pertanyaan atau jawaban tidak dinyatakan. Dalam melakukan observasi partisipan untuk tujuan etnografi, sebaik mungkin, kedua pertanyaan dan jawaban harus ditemukan dalam situasi sosial yang akan diteliti.
Terdapat tiga jenis utama pertnyaan etnografi, masing-masing mengarah pada jenis observasi yang berbeda di lapangan. Semua jenis etnografi mulai dengan “pertanyaan deskriptif” umum/luas seperti “Siapa  orang yang ada di sini?” “Apa yang mereka lakukan?”, dan “Apa latar fisik dari situasi sosial ini?” Kemuadian, setelah penggunaan jenis pertanyaan ini untuk menuntun observasi anda, dan setelah analisis data awal, Anda akan menggunakan “pertanyaan structural” dan “pertanyaan kontras” untuk penemuan. Ini akan membimbing Anda membuat observasi lebih terfokus.
Dalam sebuah etnografi seseorang dapat mengajukan seub-sub pertanyaan yang berhubnungan dengan (a) suatu deskripsi tentang konteks, (b) analisis tentang tema-tema utama, dan (c) interpretasi perilaku kultural (Wolcott, 1994, dalam Creswell, 1998: 104). Sebagai alternative subpertanyaan topical ini dapat mencerminkan 12 langkah Spradley dalam Decision Research Sequencenya sebagai berikut:
1)      Apa situasi sosial yang akan diteliti? (Memilah suatu situasi sosial)
2)      Bagaimana seseorang melakukan observasi terhadap situasi tersebut? (Melakukan observasi partisipan)
3)      Apakah yang sudah terekan tentang situasi tersebut? (Membuat rekaman etnografi)
4)      Apakah yang sudah teramati tentang situasi tersebut? (Melakukan observasi deskriptif)
5)      Apakah domain cultural yang muncul dari studi situasi tersebut? (Melakukan analisi domain)
6)      Apakah lebih spesifik, observasi terfokus dapat dibuat? (Melakukan analisis taksonomi)
7)      Melihat secara lebih selektif, observasi apa yang dapat dilakukan? (Melakukan observasi selektif)
8)      Apa komponen-komponen yang muncul dari observasi tersebut? (Melakukan analisis komponen)
9)      Apa tema-tema yang tampak? (Melakukan observasi selektif)
10)  Apa inventori cultural yang tampak? (Mengambil inventori cultural)
11)  Bagaimana seseorang dapat menulis etnografi? (Menulis sebuah etnografi) (Creswell. 1998: 104 dan Spradley, 1980: 103)
c.    Pengumpulan Data Etnografi
Tugas utama kedua dalam siklus penelitian etnografi adalah pengumpulan data etnografi. Dengan cara observasi partisipan, Anda akan mengamati aktivitas orang, karakteristik fisik situasi sosial, dan apa yang akan menjadi bagian dari temat kejadian. Selama pelaksanaan pekerjaan lapangan, apakah seseorang mempelajari sebuah desa suku tertentu untuk satu tahun atau pramugari pesawat udara untuk beberapa bulan, jenis observasi akan berubah. Anda akan mulai dengan melakukan observasi akan berubah. Anda akan mulai dengan melakukan observasi deskriptif secara umum, mencoba memperoleh suatu tinjuan terhadap situasi sosial dan yang terjadi di sana. Kemudian setelah perekaman dan analisis data awal Anda, Anda dapat mempersempit penelitian Anda dan mulai melakukan observasi ulang di lapangan, Anda akan mempu mempersempit penyelidikan Anda untuk melakukan observasi selektif. Walaupun observasi Anda semakin terfokus, Anda akan selalu melakukan observasi deskriptif umum hingga akhir studi lapangan Anda. Tiga jenis observasi ini berhubungan dengan tiga jenis pertanyaan etnografi. [21]
d.   Pembuatan Rekaman Etnografi
Langkah berikutnya dalam siklus penelitian etnografi adalah membuat rekaman atau catatan etnografi. Tahap ini mencakup pengambilan catatan lapangan. Pengambilan foto, pembuatan peta, dan penggunaan cara-cara lain untuk merekam observasi Anda. Rekaman etnografi ini membangun sebuah jembatan antara observasi dan analisis. Memang, sebagian besar analisis Anda akan sangat tergantung pada apa yang telah Anda rekam.
e.    Analisis Data Etnografi
Langkah berikutnya dalam siklus tidak dapat menunggu hingga terkumpul banyak data. Dalam penelitian etnografi, analisis merupakan suatu proses penemuan pertanyaan. Sebagai pengganti datang ke lapangan dengan pertanyaan spesifik, peneliti etnografi menganalisis data lapangan yang dikumpulkan dari observasi partisipan untuk menemukan pertanyaan. Anda perlu menganalisis catatan-catatan lapangan Anda setelah setiap periode pekerjaan lapangan untuk mengetahui apa yang akan dicari dalam periode berikutnya dari obsevasi partisipan. Terdapat empat jenis analisis, yaitu analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen, dan analisis tema.
Analisis domain, yaitu memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari objek penelitian atau situasi sosial. Melalui pertanyaan umum dan pertanyaan rinci peneliti menemukan berbagai kategori atau domain tertentu sebagai pijakan penelitian selanjutnya. Semakin banyak domain yang dipilih, semakin banyak waktu yang diperlukan untuk penelitian.
Analisis taksonomi, yaitu menjabarkan domain-domain yang dipilih menjadi lebih rinci untuk mengetahui struktur internalnya. Hal ini dilakukan dengan melakukan pengamatan yang lebih terfokus.
Analisi komponensial, yaitu mencari cirri spesifik pada setiap struktur internal dengan cara mengontraskan antarelemen. Hal ini dilakukan melalui observasi dan wawancara terseleksi melalui pertanyaan yang mengontraskan.
Analisis tema budaya, yaitu mencari hubungan di antara domain dan hubungan dengan keseluruhan, yang selanjutnya dinyatakan ke dalam tema-tema sesuai dengan fokus dan subfokus penelitian.
Seorang peneliti etnografi berpengalaman dapat melakukan bentuk-bentuk analisis berbeda ini secara simultan selama periode penelitian. Peneliti pemula dapat melakukannya dalam urutan, belajar melakukan masing-masing dalam putaran sebelum bergerak ke analisis berikutnya. Observasi partispan dan perekaman catatan lapangan, selalu diikuti oleh pengumpulan data, yang mengarah pada penemuan pertanyaan etnografi baru, pengumpulan data, catatan lapangan, dan analisis data lebih lanjut. Demikianlah siklus berlanjut hingga proyek penelitian mendekati sempurna.
f.    Penulisan Sebuah Etnografi
Tugas utama terakhir dalam siklus penelitian etnografi muncul ke arah akhir dari proyek penelitian. Walupun demikian, itu dapat pula mengarah pada pertanyaan-pertanyaan baru dan observasi-observasi lebih lanjut. Penulisan sebuah etnografi memaksa penyelidik ke dalam suatu jenis analisis yang lebih intensif.
Penelitian etnografi melibatkan suatu open-ended inquiry; memerlukan umpan balik yang konstan untuk memberikan arah penelitian. Peneliti etnografi hanya dapat merencanakan dari awal perjalanan penyelidikan mereka dalam penertian yang paling umum. Setiap tugas utama dalam tindakan siklus penelitian sebagai sebuah kompas untuk memelihara Anda di perjalanan. Jika Anda kacaukan etnografi dengan pola penelitian linear yang lebih tipikal dalam ilmu sosial, Anda akan berhadapan dengan masalah yang tidak diperlukan. Orang yang berpikir tentnag etnografi sebagai urutan linear cenderung mengumpulkan catatan lapangan minggu demi minggu dan segera menjadi berlimpah dengan kumpulan data yang tidak tersusun. Mereka sulit mengetahui kapan mereka memiliki informasi yang cukup pada suatu topik. Dan bahkan masalah yang lebih besar muncul ketika mereka menunggu semua data terkumpul sebelum mulai menganalisis secara intensif. Pertanyaan baru muncul dari data; seseorang tidak dapat mengajukan pertanyaan ini karena sulit atau tidak mungkin kembali ke lapangan. Jurang dalam informasi muncul tanpa jalan untuk mengisi data yang hilang.
Kesadaran terhadap siklus penelitian etnografi dapat memelihara Anda dari kehilangan jalan bahkan dalam proyek penelitian yang sangat kecil. Melakukan observasi partisipan secara cepat menceburkan peneliti dalam suatu data primer yang luas. Itu tidak umum bagi mahasiswa pascasarjana yang melaksanakan hanya beberapa jam seminggu untuk mengumpulkan sepuluh sampai lima belas halaman catatan lapangan setiap minggu. Peneliti etnografi yang menghabiskan beberapa jam sehari melakukan observasi partisipan secara proporsional akan memiliki sejumlah besar data lapangan.

F.      Instrumen Pengumpul dan Paparan Data Etnografi
Sebagaimana layaknya penelitian kualitatf yang mengedepankan naturalitik dalam mendapatkan data yang sifat deskriptif, maka penelitian etnografi juga memafaatkan teknik pengumpulan data yang digunakan penelitian kualitatif pada umumnya, namun ada beberapa teknik yang khas. Adapun instrumen pengumpul data pada penelitian etnografi sebagai berikut:
1.  Pertama, wawancara mendalam (indepth interview) merupakan serangkaian pertanyaan yang diajukan peneliti kepada subjek penelitian. Mengingat karakter etnografi yang naturalistic, maka bentuk pertanyaan atau wawancara yang dilakukan merupakan pertanyaan terbuka dan sifatnya mengalir, meski demikian untuk menjaga focus penelitian ada baiknya seorang peneliti memiliki panduan wawancara yang sifatnya fleksibel. Setiap wawancara yang dilakukan, peneliti harus memperdalamnya dengan cara membuat catatan hasil wawancara dan observasi. Karena itu, kegiatan wawancara akan selalu menghasilkan pertanyaan baru yang sifatnya memperdalam apa yang telah diterima dari subjek penelitan. Dalam konteks memperdalam data, proses wawancara dapat dilakukan secara spontan maupun terencana.
2.  Kedua, Observasi partisipan (participant observation). Untuk mengetahui secara detail langsung bagaimana budaya yang dimiliki individu atau sekelompok masyarakat maka seorang peneliti eetnografi harus menjadi “orang dalam”. Menjadi “orang dalam” akan memberi keuntungan peneliti dalam menghasilkan data yang sifatnya natural. Peneliti akan mengetahui dan memahami apa saja yang dilakukan subjek penelitian, prilaku keseharian, kebiasaan – kebiasaan yang dilakukan keseharian, hingga pada pemahaman terhadap symbol-simbol kehidupan subjek penelitian dalam keseharian yang bisa jadi orang lain tidak memahami apa sebenarnya symbol itu. Menjadi orang dalam memberikan akses yang luar biasa bagi peneliti untuk “menguak”semua hal tanpa sedikitpun halangan, karena subjek penelitian akan merasa kehadiran peneliti tak ubahnya sebagai bagian dari keluarganya, sehingga tidak ada keraguan dan hambatan bagi subjek untuk berperilaku alami, sebagaimana layaknya dia hidup dalam keseharian. Namun demikian, menjadi orang dalam melalui kegiatan observasi partisipan tidak menjadikan peneliti larut hingga tidak bisa membedakan dirinya dengan diri subjek penelitian. Posisi inilah yang harus benar-benar dijaga dalam melakukan riset etnografi.
3. Ketiga, Diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion), merupakan kegiatan diskusi bersama antara peneliti dengan subjek penelitian secara terarah. Dalam konteks ini sebenarnya kemampuan peneliti untuk menyajikan isu atau tema utama, mengemasnya dan kemudian mendiskusikan serta mengelola diskusi itu menjadi terarah dalam arti proses diskusi tetap berada dalam wilayah tema dan tidak terlalu melebar apalagi sampai menyertakan emosi subjek secara berlebihan menjadi kata kunci dari proses FGD yang baik. Diskusi kelompok terarah ini bisa diawali dengan pemilihan anggota diskusi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh peneliti, ataupun dapat saja dilakukan dengan secara acak, namun tetap memperhatikan “kekuatan” masing-masing peserta diskusi, mulai dari tingkat pendidikan, intelektualitas, pengalaman bahkan keseimbangan gender. Dengan penetapan ini, merupakan langkah untuk menghindari ketimpangan atau dominannya satu kelompok atau individu dalam sebuah diskusi. Kemudian, dilanjutkan dengan tema yang akan diusung peneliti, dan diskusikan secara bersama. Proses inilah yang kemudian oleh peneliti dicatat secara rinci untuk kemudian dijadikan dasar pijak untuk memperdalam dan memperkaya data etnografi.
4. Keempat, Sejarah hidup (Life history), merupakan catatan panjang dan rinci sejarah hidup subjek penelitian. Melalui catatan sejarah hidup ini peneliti etnografi akan memahami secara detail apa saja yang menjadi kehidupan subjek penelitian dan factor-faktor yang mempengaruhinya termasuk budaya yang ada di lingkungannya. Catatan sejarah hidup, menghendaki kemampuan peneliti untuk jeli dalam melihat setiap detail kehidupan seseorang, sehingga tergambar dengan jelas bagaimana “jalan” kehidupan subjek penelitian dari lahir hingga dewasa sehingga terketemukan peristiwa-peristiwa penting yang menjadi titik balik (turning point) dalam sejarah kehidupan subjek penelitian. Meski hampir sama dengan pola autobiografi, namun terdapat perbedaan terutama pada upaya yang lebih kuat dalam penulisan untuk menghindari subjektivitass penulis.
5. Kelima, analisis dokumen (Document analysis). Analisis dokumen diperlukan untuk menjawab pertanyaan menjadi terarah, disamping menambah pemahaman dan informasi penelitian. Mengingat dilokasi penelitian tidak semua memiliki dokumen yang tersedia, maka ada baiknya seorang peneliti mengajukan pertanyaan tentang informan-informan yang dapat membantu untuk memutuskan apa jenis dokumen yang mungkin tersedia. Dengan kata lain kebutuhan dokumen bergantung peneliti, namun peneliti harus menyadari keterbatasan dokumen, dan bisa jadi peneliti mencoba memahami dokumen yang tersedia, yang mungkin dapat membantu pemahaman.
Berbagai teknik pengumpulan data yang terpapar tersebut bisa digunakan peneliti secara bersamaan atau dipilih peneliti berdasarkan kebutuhan dan juga bergantung peneliti dalam memaksimalkan instrument tersebut. Yang jelas, bagaimana upaya peneliti dalam mendapatkan dan menghasilkan data etnografi yang rinci dan utuh.
Setelah melakukan proses penggalian data dan menganalisisnya, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan peneliti adalah membuat laporan etnografi. Ada enam bentuk laporan etnografi yang dapat disajikan peneliti, yaitu : (1) ethnocentric descriptions adalah studi yang dibentuk dengan tidak menggunakan bahasa asli dan mengabaikan makna yang ada. Masyarakat dan cara berperilaku dikarakteristikkan secara stereotipe; (2) social science descriptions digunakan untuk studi yang terfokus secara teoritis pada uji hipotesis; (3) standard ethnographies menggambarkan variasi luas yang ada pada penutur asli dan menjelaskan konsep asli. Studi ini juga menyesuaikan kategori analitisnya pada budaya lain; (4) monolingual ethnographies, seorang anggota masyarakat yang dibudayakan menulis etnografi dalam bahasa aslinya. Etnografer secara hati-hati membawa sistem semantis bahasanya dan menterjemahkan ke dalam bahasanya; (5) life histories adalah salah satu bentuk deskripsi yang menawarkan pemahaman terhadap budaya lain. Mereka yang melakukan studi ini akan mengamati secara mendetail kehidupan seseorang dan proses yang menunjukkan bagian penting dari budaya tersebut. Semua dicatat dalam bahasa asli, kemudian diterjemahkan dan disajikan dalam bentuk yang sama sesuai  dengan pencatatan; serta (6) ethnographicnovels.



BAB V
PENUTUP

A.  Kesimpulan
1.   Penelitian etnografi adalah penelitian kualitatif yang melakukan studi terhadap kehidupan suatu kelompok masyarakat secara alami untuk mempelajari dan menggambarkan pola budaya satu kelompok tertentu dalam hal kepercayaan, bahasa, dan pandangan yang dianut bersama dalam kelompok tersebut.
2.   Langkah-langkah penelitian etnografi adalah sebagai berikut :
a.       Menetapkan seorang informan.
b.      Melakukan wawancara dengan informan-informan, yaitu wawancara mendalam untuk mengetahui tentang fenomena yang diteliti.
c.       Membuat catatan etnografis melalui catatan harian hasil wawancara (nama informan, tempat, waktu, tanggal, catatan hasil wawancara dan catatan refleksi).
d.      Mengajukan pertanyaan deskriptif, yaitu pertanyaan tentang fenomena budaya yang diteliti.
e.       Melakukan analisis wawancara etnografis, yaitu dengan membuat catatan-catatan refleksi dan menghubungkannya dengan catatan-catatan lainnya untuk memperoleh kesamaan, kategori sementara dan sebagainya.
f.       Membuat analisis domain (diperoleh dari grand tour observation) yaitu melalui universal semantic relationship. Hubungan semantis tersebut terkategori, yaitu: jenis, ruang, sebab akibat, rasional, lokasi tindakan, cara sampai ke tujuan, fungsi, urutan dan atribut. Untuk ini buatlah lembaran analisis domain.
g.      Mengajukan pertanyaan struktural, yaitu pertanyaan  yang menyangkut keseluruhan dari analisis domain. Misalnya, apa saja jenis keseluruhan perkawinan di desa ini.
h.      Membuat analisis taksonomis: pada analisis ini sudah difokuskan pada fenomena budaya yang diteliti, jadi pada domain tertentu, misalnya pada domain fungsi (kawin sirri). Pemenuhan hasrat seksual,  menolong kesulitan ekonomi, pemenuhan aktualisasi diri. Masing-masing akan memiliki subfungsi yang akan berkembang sesuai dengan penelusuran wawancara dan dikategorikan sesuai dengan kesamaannya.
i.        Mengajukan pertanyaan kontras, yaitu pertanyaan untuk mengungkap adanya kontras di setiap elemen di dalam domain. Misalnya apakah ada yang berbeda pendapat dalam menanggapi fungsi kawin sirri tersebut.
j.        Analisis komponensial: yang dibidik oleh analisis komponensial adalah adanya perbedaan-perbedaan di setiap elemen dalam analisis domain. Melalui contrast questions maka akan diperoleh dimensi-dimensi kontras di dalam setiap domain. Misalnya: pemenuhan kebutuhan seksual vs bukan pemenuhan kebutuhan seksual dan sebagainya. 
k.      Analisis tema budaya, yaitu memahami tema budaya apa yang dominan dari suatu entitas budaya pada masyarakat. Dari setiap domain tersebut tentunya terdapat domain penting dan dominan, yang darinya dapat diketahui apa tema budaya yang ada di masyarakat tersebut.
l.        Menulis laporan etnografis, yaitu berperspektif personal voice, bahasa informal, menerima kaidah-kaidah bahasa kualitatif.

B.  Kata Penutup
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Penulis sangat menyadari, bahwa dalam penulisan ini banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan, pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu penulis mengharapkan masukan, kritik dan saran demi perbaikan makalah ini.
Harapan penulis semoga kata makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Amin.









DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, Paul & Hammersley, Martyn, Etnography and Participant Observation, Strategies of Qualitative Inquiry ed. Norman K Denzin & Yvonna S. Lincoln, (California:SAGE Publication, Inc, 1998).
Creswell, John W., Qualitative Inquiry & Research Design, Choosing Among Five Approch ,(California: Sage Publications, 2007).
Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif, (Jakarta: RajaGrafindo, 2011).
Lodico, Marguerite G, Dean T. Spaulding, Katherine H. Voegtle, Methods in Educational Research From Theory to Practice, (San Fransisco: Jossey Bass, 2006).
Mills, L.R. Gay, Geoffrey E. & Airasian, Educational Research: Competencies for analysis and application-9th. Ed, (New Jersey: Merril-Pearson Education, 2009).
Syam, Nur, Penelitian Etnografi Bidang Hukum Islam, http://nursyam.sunan-ampel.ac.id.




[1] Marguerite G. Lodico, Dean T. Spaulding, Katherine H. Voegtle, Methods in Educational Research From Theory to Practice, (San Fransisco: Jossey Bass, 2006), hal. 268.
[2] Ibid., hal. 268.
[3] L.R. Gay, Geoffrey E. Mills & Airasian, Educational Research: Competencies for analysis and application-9th. Ed,  (New Jersey: Merril-Pearson Education, 2009), hal. 404.
[4]John W. Creswell, Qualitative Inquiry & Research Design, Choosing Among Five Approch, (California: Sage Publications, 2007), hal. 68.
[5] Lodico.,op.cit., hal. 267.
[6] Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif, (Jakarta: RajaGrafindo, 2011), hal. 144.
[7] Ibid, hal. 144.
[8] Lodico, op.cit., hal. 268.
[9] Creswell, op.cit., hal. 68
[10] Lodico, loc.cit., hal 268.
[11] Paul Atkinson & Martyn Hammersley, Etnography and Participant Observation, Strategies of Qualitative Inquiry ed. Norman K Denzin & Yvonna S. Lincoln, (California:SAGE Publication, Inc, 1998)
[12] Gay, op.cit., ha.l 406.
[13] Nur Syam, Penelitian Etnografi Bidang Hukum Islam, http://nursyam.sunan-ampel.ac.id.diakses 27 September 2013.
[15] Emzir, Op.Cit, hal. 150-152.
[16] Creswell, oc.cit., hal. 69-70.
[17] Gay, op.cit., tabel 16.1 hal. 407.
[18] Creswell, op.cit., hal. 70-72.
[19] Emzir, Op.Cit, hal. 153-154.
[20] Ibid, hal. 157-167.
[21] Emzir, Op.Cit., hal.  164.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar